Rabu, 22 Maret 2017

“Hujan di Angka Dua”

 BY : U. NaMa
Laki-laki POV
.
Gemuruh suara langit mendung
Awan limpahkan cairan terkandung
Perkenalan awal sebuah kalung
Tak terduga, kita saling terhubung
.
Kisah berlalu tanpa sia
Pendekatan berjalan sesusai rencana
Dua lima terpampang sebuah tanggal
Kuberi titik sebagai tanda
.
Jaket terpasang penuh hangat
Tangan tergenggam erat-erat
Bersama lewati tanah tempat
Tawa terluncur tanpa syarat
.
Panas minuman membayang asap
Kursi dan meja, duduk berhadap
Cengkerama bicarakan suasana gelap
Lilin mati, kau kalap
.
Suara mesin menderu-deru
Pelindung terpasang bersama riuh
Pelukan terasa di atas bahu
Lebarkan lengkung penuh haru
.
Tiga tahun berlalu ceria
Usia dewasa tak lagi belia
Kata ‘pisah’ karena tugas mulia
Ku senyum meski tak rela
.
Air berlalu datang sinar
Bicara kata masih lancar
Hubung jauh penuh sadar
Curah cerita kita bertukar
.
Tatap muka terhalang kaca
Senyum malu terasa sama
Obat rindu sebuah suara
Lantunkan kalimat penuh canda
.
Kesibukan kurangi waktu temu
Tersenyum maklum meski ngilu
Dua detik waktu tersingkat
Dua menit terucap kiat
.
Dingin merayap angin semilir
Kayu bertumpuk menjadi pasir
Dua minggu berlalu tanpa hadir
Seribu sayang tak kunjung mampir
.
Teka-teki singkat terjawab lama
Makna penjelas penuh sirat
Genggam layar tanpa hawa
Panggilan kosong dan kotak hampa
.
Karang diterpa ribuan ombak
Puluhan dara berputar-putar
Pandang mata sebelah utara
Lagi-lagi tak bisa dipercaya
.
Sadar diri sebelum usai
Berlari manusia beramai-ramai
Mata menangis biarkan berderai
Terhalang langit, air merinai
.
Hujan menghias tengah hari
Rintikan hiasi halaman rapi
Tangan terjulur rasakan peri-peri
Sebuah ingatan membayang sepi
.
Lima tahun berlalu mantan
Ingat pikir merasa tertantang
Tangan genggam kalung terkenang
Bekal kasih, kubawa sayang
.
Laksana hati terantuk godam
Penuhi wajah dengan lebam
Jauh-jauh kupergi rumah
Dapatkan sapuan dari perubah
.
Kesal dendam kau hubungi
Kotak pos yang lama tak terisi
Otak berpikir penuh persepsi
Akankah permintaan maaf memenuhi?
.
Renung hati di bawah air
Tipu pandang tetes mengalir
Kupegang secarik kertas terlampir
Dua lima yang datang, kau bersanding
.
Bermain berdua adalah hiburan
Nikmati hidup adalah perjalanan
Jalani waktu adalah penantian
Rasa marah adalah sesalan
.
Kebahagiaanmu sudah diambang
Kesedihanku sudah tak terbilang
Biar dirimu berbahagia
Biar diriku menangis rela
.
Seumpama hujan tinggalkan awan
Laksana gemuruh hancurkan dataran
Satu kalimat kuucap diam

Selamat tinggal, mantan tersayang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar